Simposium Perwakafan Nasional Serukan Gerakan Gemar Berwakaf dan Penguatan Nazhir untuk Kesejahteraan Umat
Turut hadir sejumlah tokoh penting di tingkat nasional maupun daerah, antara lain Pejabat Kementerian Perindustrian RI Syukur Idayati, Sekretaris BWI Pusat Anas Nasikhin, Ketua BWI Provinsi Jawa Timur Musta’in, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo Samsur serta Bupati Probolinggo Mohammad Haris.
Acara dibuka dengan laporan ketua pelaksana Ramly Syahir, yang menyampaikan bahwa Kabupaten Probolinggo berhasil menorehkan prestasi membanggakan.
“Alhamdulillah, Kabupaten Probolinggo menempati peringkat kedua tercepat se-Jawa Timur dalam pengelolaan wakaf. Semua ini berkat kerja keras dan kolaborasi yang solid antara Kemenag, BPN, dan Pemerintah Kabupaten,” ujarnya dengan penuh semangat.
Ramly menegaskan, simposium ini bertujuan memperkuat sinergi semua pihak agar wakaf tidak hanya menjadi simbol kebaikan, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan umat.
Dari Kementerian Perindustrian RI, Syukur Idayati menambahkan bahwa potensi wakaf sangat besar bila dikelola lintas sektor.
Ia menyebut, “Dengan sinergi yang tepat, wakaf dapat menjadi instrumen penggerak pembangunan nasional yang berkelanjutan.”
Menurutnya, penguatan ekosistem wakaf tidak hanya menambah aset umat, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan daya saing bangsa.
Akhmad Sruji Bahtiar, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, menekankan pentingnya pengelolaan profesional.
“Wakaf bukan sekadar ibadah sosial, tapi juga amanah yang harus dikelola secara serius dan profesional. KUA sebagai PPAIW memiliki peran vital untuk menjamin legalitas dan keamanan aset wakaf,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Probolinggo Mohammad Haris menyampaikan pesan inspiratif kepada para peserta.
Ia menuturkan, “Berwakaf itu tidak perlu menunggu kaya. Wakaf adalah solusi untuk mengabadikan harta sebagai investasi akhirat.”
Dalam pidatonya, Bupati memaparkan tiga kunci sukses gerakan gemar berwakaf: membiasakan masyarakat gemar berwakaf, meningkatkan literasi wakaf sejak dini, dan memperkuat kapasitas para nazhir. Ia kemudian secara resmi membuka simposium dengan ketukan palu disambut tepuk tangan meriah peserta.
Penghargaan "Khaibar Award"
Salah satu momen berkesan adalah penganugerahan “Khaibar Award” oleh BWI kepada tokoh-tokoh yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam memajukan wakaf di Indonesia. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi dan komitmen para pegiat wakaf yang menginspirasi.
Sesi Pemaparan Inspiratif
Dalam sesi narasumber, Anas Nasikhin, Sekretaris BWI Pusat, mengajak hadirin untuk menjadikan wakaf sebagai bagian dari gaya hidup.
“Gerakan berwakaf harus kita tanamkan sebagai life style, bukan sekadar kegiatan insidental,” katanya.
Ia menegaskan, perubahan paradigma ini akan membuat wakaf hadir di setiap lini kehidupan umat.
Musta’in, Ketua BWI Jawa Timur, memfokuskan materi pada sosialisasi wakaf uang dan penguatan nazhir.
Ia menjelaskan secara lugas, “Wakaf uang membuka peluang besar untuk pembiayaan produktif. Namun, kuncinya adalah nazhir yang kompeten dan profesional.”
Hidayatullah, Kasi Bimais Kemenag Kabupaten Lumajang, membagikan pengalamannya mengelola wakaf produktif.
Dengan nada optimis ia mengatakan, “Kami membuktikan, aset wakaf yang dulu tidak termanfaatkan kini bisa menghasilkan profit, membiayai pendidikan, dan memberdayakan ekonomi masyarakat.”
Pada akhir acara, semua peserta sepakat untuk memperkuat kolaborasi, mengedepankan profesionalisme, dan memastikan bahwa wakaf benar-benar menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat, sekaligus kontribusi nyata bagi peradaban Islam yang berkemajuan. (YZ)
Komentar
Posting Komentar