Kemenag bersama Warga Masyarakat Galang Gerakan Pengukuran Arah Shalat untuk Meningkatkan Akurasi Ibadah

 


Probolinggo, 24 Desember 2024 – Dalam rangka memastikan ketepatan arah kiblat bagi umat muslim, Gerakan Pengukuran Arah Shalat digelar oleh Kementerian Agama dan sejumlah komunitas astronomi Islam. Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo juga menggelar kegiatan yang sama di 9 titik lokasi terpilih di 24 kecamatan. Salah satunya adalah di Masjid Besar Nurul Qodim Kecamatan Kotaanyar. Kegiatan dipimpin langsung oleh kepala KUA Kecamatan Kotaanyar, Imam Asy'ari. Dihadiri oleh para Penyuluh Agama Islam Fungsional,/P3K/Non PNS perwakilan dari KUA Kecamatan Kotaanyar dan Paiton, anggota takmir masjid dan Akademisi & Mahasiswa dari UNUJA serta masyarakat umum.


Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan pembukaan oleh Penyelenggara Zakat dan Wakaf mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Probolinggo, Yazid Zain. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya ketepatan arah kiblat untuk kesempurnaan ibadah. “Arah kiblat yang akurat menjadi salah satu syarat sah shalat, dan kita perlu memastikan bahwa masjid-masjid serta rumah ibadah lainnya mengacu pada arah yang tepat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Penguasaan ilmu falakiyah atau astronomi sangat penting terutama dalam konteks penentuan arah kiblat. Ilmu falakiyah membantu memastikan arah kiblat yang akurat untuk melaksanakan ibadah salat. Ilmu falakiyah memungkinkan umat Islam untuk menyesuaikan arah kiblat berdasarkan posisi geografis dan waktu tertentu, terutama di wilayah yang jauh dari Ka'bah di Mekah. Apalagi didukung oleh penggunaan alat-alat modern seperti kompas, GPS, dan aplikasi peta digital dapat lebih efektif dalam menentukan arah kiblat.



Kegiatan dilanjutkan dengan proses pengukuran. Para peserta terdiri dari pengurus masjid, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Mereka dibekali pelatihan singkat mengenai cara menentukan arah kiblat menggunakan metode tradisional dan teknologi modern. Tim ahli dari Tim Falakiyah PC NU Kraksaan & Universitas Nurul Jadid yang dipimpin oleh Mustafa Syukur hadir untuk memberikan materi.



Mustafa Syukur, Dosen sekaligus tenaga ahli Falakiyah, menjelaskan penggunaan alat seperti teodolit, kompas digital, dan aplikasi berbasis GPS. Selain itu, peserta juga diajarkan cara memanfaatkan bayangan matahari pada waktu tertentu berdasarkan posisi matahari yang sejajar dengan Ka'bah. “Kami juga memberikan simulasi pengukuran manual menggunakan bayangan matahari saat matahari berada di atas Ka'bah, yaitu pada waktu-waktu tertentu di tahun ini,” tambahnya.


Hasil Pengukuran di Masjid Besar Nurul Qodim Kotaanyar yang diukur ulang arahnya, hasilnya ditemukan bahwa masjid mengalami deviasi kecil dari arah kiblat yang sebenarnya.  “Ini menjadi masukan penting untuk pembenahan ke depan,” ujar Imam Asy'ari, ketua panitia kegiatan sekaligus Kepala KUA Kecamatan Kotaanyar. Lebih lanjut Imam menyatakan kepada anggota takmir dan peserta bahwa bagi bangunan masjid yang mengalami deviasi kecil dari arah kiblat yang sebenarnya cukup dengan memberikan tanda berupa garis atau tanda lainnya sebagai penentu yang mudah dipahami jamaah sehingga tidak perlu membongkar bangunan yang ada.


Menyikapi hasil pengukuran tersebut, Yazid Zain menyatakan bahwa perbedaan itu disebabkan karena kita sebagai umat Islam yang posisinya jauh dari Ka'bah sebagai kiblat yang dipisahkan jarak beratus-ratus kilo meter. Sehingga untuk menentukan arah kiblat kita perlu melakukan pengukuran yang disebut dengan istilah "Jihatul Qiblat". "Sedangkan bagi penduduk Mekah yang ada di sekitar Ka'bah tidak perlu melakukan pengukuran akan dapat menghadap Ka'bah secara langsung yang disebut dengan "Ainul Kiblat", tegasnya.

Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan riang gembira. Salah satu peserta, Jamino (35), mengaku sangat terbantu dengan pelatihan ini. “Saya baru tahu cara menghitung arah kiblat yang benar. Sebelumnya hanya mengandalkan kompas biasa, ternyata ada teknik yang lebih akurat,” ujarnya.


Kegiatan diakhiri dengan penyerahan rekomendasi hasil pengukuran kepada pengurus Masjid Besar Nurul Qodim Kotaanyar dan dilanjutkan dengan foto bersama peserta sebagai dokumentasi dan laporan kegiatan. Sebagai pernyataan penutup, Sugianto selaku anggota tim Kemenag menyatakan bahwa Kementerian Agama berkomitmen untuk terus mengadakan kegiatan serupa di berbagai wilayah. "Agar semakin banyak umat muslim yang memahami pentingnya arah kiblat dalam beribadah khususnya Kabupaten Probolinggo" terang Kasi PAIS tersebut bersemangat.


Sugianto menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju akurasi kiblat yang lebih baik di seluruh Indonesia. Selain itu, penyelenggara juga berharap masyarakat dapat lebih sadar dan peduli terhadap aspek teknis ibadah yang sering kali dianggap sepele (YZ)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMPUNG ZAKAT BERDAYA UMAT SEJAHTERA : Kolaborasi UPZ Kemenag, KUA dan BAZNAS Kabupaten Probolinggo Bentuk Kampung Zakat di Desa Gili

Purna Tugas Penyuluh Agama Islam Fungsional: Penghormatan atas Dedikasi dan Pengabdian

EMPAT AKTA IKRAR WAKAF DITERBITKAN, EMPAT BIDANG TANAH SAH DIWAKAFKAN UNTUK MASJID BAITUR ROHMAH PUSPAN MARON